Ilmuwan Berhasil Memprogram DNA Bakteri untuk Menyimpan Data

Foto : interestingengineering

Teknologi.id  – Hal pertama yang dilakukan oleh seorang programmer pemula adalah bagaimana cara mengajarkan sebuah komputer untuk mengatakan “Hello World!” dan menyimpan data yang dibuat di dalam komputer. Namun, bagaimana jika data tersebut disimpan dalam DNA? Mungkinkah?

Para ilmuwan telah berhasil menemukan suatu metode untuk menyimpan data yang bekerja layaknya disket, atau floppydisk, namun uniknya, data tersebut berasal dari DNA bateri yang hidup.

Sebuah studi yang diterbitkan pada tanggal 11 Januari di jurnal Nature Chemical Biology merinci bagaimana para peneliti yang dipimpin oleh ahli biologi sistem Columbia University, Harris Wang, menggunakan listrik dan alat pengeditan CRISPR untuk menulis “Hello Wold!” ke dalam DNA bakteri yang hidup.

Baca Juga: Ilmuwan Tengah Kembangkan Vaksin Tanpa Suntik

“Pekerjaan ini menetapkan kerangka penyimpanan data digital ke biologis secara langsung dan meningkatkan kapasitas kami untuk pertukaran informasi antara silikon dan entitas berbasis karbon”, tulis tim dalam jurnal.

Materi genetik seperti DNA adalah suatu cara yang berpotensi berguna untuk menyimpan data karena dapat menyimpan banyak informasi dalam ruang yang kecil. 

Sebagai gambaran, kita dapat menyimpan 10 film digital dalam ukuran storage seukuran satu butir garam. Lebih dari itu, 10 triliun molekul DNA dapat dipadatkan menjadi satu sentimeter kubik. Secara teori, material tersebut dapat melakukan 10 triliun kalkulasi sekaligus dan menyimpan 10 TB data.

Kode komputer terdiri dari angka nol dan satu dan setiap digit disebut sebut “bit” informasi. Untaian rantai DNA terdiri dari empat bahan kimia dasar yaitu A (Adenine), C (Sitosin), G (Guanin), dan T (Timin) yang dapat diubah menggunakan alat bioteknologi seperti CRISPR.

Dalam sebuah studi baru, perubahan pada urutan genetik diterjemahkan jadi “one”, sementara tidak ada perubahan sama sekali diterjemahkan menjadi “zero”. Kombinasi dari enam bit bakteri mengacu pada huruf, angka, spasi, atau tanda baca, sehingga peneliti menyebutnya sebagai “byte”. 

(cf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *