Militer AS akan Gunakan Laser saat Perang, Apa Fungsinya?

Sebagian
besar pengembang senjata menyadari teknologi senjata laser yang berkembang cepat
semakin menjanjikan dengan transmisi kilowatt tinggi baru yang mampu membakar,
menghancurkan, atau menonaktifkan berbagai target musuh.

Lalu, bagaimana jika menggunakan laser untuk komunikasi? Raytheon’s
Intelligence and Space, Advanced Concepts and Technology Unit kini sedang
meneliti hal tersebut.

Raytheon sudah melakukan tahap pengembangan dan
pengujian aplikasi baru teknologi komunikasi laser yang berpotensi dapat digunakan
dalam peperangan taktis baru.

Baca juga: Teknologi Militer AS Ini Akan Guncangkan Dunia

“Saat Anda mengirim transmisi melalui udara, salah satu
tantangan terbesar adalah distorsi atmosfer. Kadang-kadang partikel di udara
dapat menyebabkan distorsi, sehingga data harus memotong dan mengurangi anomali
atau interferensi tersebut,”

Kata Jennifer Benson, Kepala Insinyur Area Produk untuk
Elektronik Tingkat Lanjut, Raytheon Intelligence & Space, dikutip dari The
National Interest hari Rabu 10 Maret 2021.

Pengembang Raytheon menguji jenis teknologi komunikasi laser
ini pada jarak lebih dari 16 km di perairan yang besar dan melalui kondisi
atmosfer yang sulit.

Baca juga: 6 Teknologi Militer Canggih yang Bakal Jadi Momok Dunia

Pengujian jarak jauh diharapkan dalam beberapa bulan
mendatang, karena kemungkinan teknis semacam ini dapat menghubungkan drone ke
pesawat, pesawat ke pusat komando dan kendali darat atau bahkan data sensor
berorientasi pertahanan rudal di luar atmosfer bumi di beberapa titik.

Dengan menggunakan laser sebagai sarana komunikasi, gangguan
akan lebih sedikit, karena transmisi laser dapat menggabungkan jalur pengiriman
dan penerimaan.

Hal tersebut memungkinkan informasi seperti video definisi
tinggi yang lebih efisien dan memungkinkan untuk melalui distorsi di atmosfer.

Baca juga: AS Punya Kacamata Militer Baru, Ini Fitur dan Fungsinya

Prospek teknis ini memperkenalkan paradigma teknologi baru
untuk kecepatan tinggi, komunikasi titik ke titik yang lebih tepat, membawa
kemungkinan pengurangan latensi, dan yang paling penting, mengurangi waktu
transmisi secara masif.

“Receiver kami seukuran ponsel yang dapat diletakkan di
banyak area berbeda, memungkinkan udara ke darat dan mungkin luar angkasa ke darat
di masa depan,” kata Benson.

Teknologi penerima dapat menggabungkan sinyal optik ruang
bebas dengan kecepatan 100 Gigabit per detik, mengirimkan pesan yang dapat disesuaikan
dengan kondisi atmosfer.

“Pemancar menyediakan energi dan jalur penerimaan yang harus
mengumpulkannya dan menerima pesan lengkapnya, ”jelas Benson.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *