7 Teknologi Anti Banjir Ini Mungkin Bisa Selamatkan Jakarta

 Sejumlah wilayah di DKI Jakarta dan sekitarnya dilaporkan terendam banjir sejak Sabtu (20/2/2021) pagi. Bahkan, terpantau hingga Minggu (21/2/2021) pagi, sejumlah ruas jalan di beberapa titik wilayah Jakarta pun masih lumpuh tergenang banjir dengan kedalaman bervariasi.

Akibatnya ribuan keluarga terpaksa mengungsi ke posko yang disediakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap ada tiga faktor penyebab banjir di DKI Jakarta yang berkaitan dengan fenomena alam.

Baca juga: 7 Cara Mendapatkan Bitcoin Gratis di HP Android

“Pertama, hujan jatuh di sekitar wilayah Jabodetabek yang bermuara ke Jakarta. Kedua, curah hujan yang terjadi sendiri di Jakarta. Dan ketiga, adanya pasang naik di Jakarta Utara dari air laut,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam konferensi pers daring, Sabtu (20/2).

Dengan curah hujan yang masih masih cukup tinggi, warga Ibu Kota pun diingatkan untuk tetap waspada adanya banjir susulan yang lebih parah karena masih ada potensi hujan lebat hingga 25 Februari 2021.

Nah, sebenarnya masalah banjir bukan cuma masalah di Jakarta dan Indonesia, di banyak tempat di seluruh dunia pun juga kerap kali diberitakan mengalami kebanjiran. Berikut ini ada 7 inovasi teknologi anti banjir di dunia yang mungkin bisa diterapkan untuk menyelamatkan Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia dari bencana banjir.

7 Teknologi Anti Banjir yang Mungkin Bisa Selamatkan Jakarta

1. Water-Gate, Selandia Baru

Foto: Quick Dams

Teknologi anti banjir pertama datang dari negara Selandia Baru dengan nama Water-Gate. Water-Gate adalah alat reaksi cepat anti banjir. Berfungsi sama seperti karung pasir saat banjir, Water-Gate berguna sebagai tanggul darurat. Water-Gate terbuat dari PVC, mudah dibongkar pasang, digulung dan disambung-sambung.

Cara kerjanya sederhana. Water-Gate ini awalnya rata, namun ketika air banjir datang, tekanan air ini mendorong Water-Gate ini membuka seperti kipas dan terciptalah tanggul. Water-Gate bisa digunakan berulang-ulang bahkan bisa dikerjakan oleh sedikit orang.

Water-Gate Self-inflating Barrier ini adalah penemuan dari Hydro Response Ltd. Bisa dipasang di sungai, jalan raya, akses jalan perumahan dan lokasi lain yang dirasa perlu untuk menahan air banjir menjadi keunggulan Water-Gate.

2. Maeslant Storm Surge Barrier, Belanda

Foto: YouTube/Rijkswaterstaat

Belanda bisa dibilang sebagai salah satu negara dengan inovasi teknologi anti banjir terbaik. Salah satu infrastruktur besar di sana untuk menahan banjir adalah Maeslant Storm Surge Barrier atau Maeslantkering di Rotterdam.

Diciptakan tahun 1997, Maeslant Storm Surge Barrier adalah pintu gerbang raksasa untuk menutup kanal dari ancaman banjir. Seperti diketahui, sungai dan kanal di Belanda dipakai untuk lalu lintas kapal. Untuk itu, perlu ada teknologi buka tutup sungai.

Ketika kondisi normal, sungai dibuka untuk lalu lintas kapal, sementara saat terjadi banjir sungainya ditutup untuk menahan aliran banjir.

Cara kerjanya, ketika permukaan air naik, sensor bahaya akan menyala. Lalu gerbang pelan-pelan akan menutup dari pinggir sungai dengan cara digeser. Gerbang ini kemudian diisi air sebagai pemberatnya. Maka, terciptalah bendungan di sungai.

Baca juga: Cara Main Clubhouse, Medsos yang Booming Berkat Elon Musk

3. Aquobex Flood Guard, Inggris

Foto: Aquobex

Aquobex Flood Guard adalah inovasi teknologi pencegah banjir di rumah-rumah buatan Aquobex. Aquobex ini adalah penahan air yang bisa dipasang di pintu-pintu rumah, sehingga air banjir tidak masuk ke dalam rumah.

Aquobex diterapkan di wilayah yang langganan banjir, mudah dipasang dan bisa dipakai berulang-ulang. Fungsinya sama seperti karung pasir untuk menjadi tanggul air sementara.

4. Thames Barrier, Inggris

Foto: Viscount Cruises

Di Inggris, Sungai Thames yang terletak di Kota London ternyata juga sering banjir. Oleh karena itu, Inggris juga menciptakan teknologi penahan banjir seperti di Belanda. Yang membedakan adalah cara kerjanya. Thames Barrier memakai gerbang dari baja hollow dengan sistem diangkat, bukan digeser seperti di Belanda.

Lagi-lagi alasannya karena Sungai Thames juga dipakai untuk lalu lintas kapal. Saat ada ancaman banjir, gerbang akan muncul dari bawah air untuk mencegah London kebanjiran. Teknologi ini sudah ada dari 1984 dan lebih dari 100 kali melindungi London dari banjir.

5. Opti, Amerika Serikat

Foto: aim2florish

Opti bukanlah alat atau infrastruktur besar. Dia adalah startup yang mengolah software manajemen data untuk memetakan dan mengoptimalkan sistem drainase yang terkomputerisasi. Opti mengangkat teknologi pemetaan untuk meramal di mana banjir akan terjadi di sebuah kota.

Lalu pemerintah daerah setempat bisa membangun kolam retensi dan sistem manajemen banjir lainnya. Software pada Opti akan mengawasi ramalan cuaca dan memperkirakan banjir saat terjadi badai. Para insinyur juga bisa menyetel kolam retensi dengan software ini, mana yang diisi, mana yang dikosongkan.

Saat ini, Opti dipakai di 130 kota di Amerika Serikat. Opti berfokus untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi jika sampai terjadi banjir.

6. LiDAR Flood Risk Mapping, Thailand

Foto: Bangkok Post

Sungai Chao Phraya di Bangkok juga punya risiko banjir. Mereka memakai teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk mitigasi bencana banjir.

LiDAR bukan teknologi yang asing karena sudah ada di iPhone 12 Pro dan iPad Pro. Namun penggunaan LiDAR untuk mitigasi bencana banjir di Bangkok, bisa ditiru Pemprov DKI Jakarta.

Prinsip kerjanya, para insiyur di Bangkok memakai LiDAR untuk membuat peta elevasi 3D. Dari itu mereka bisa memuat model elevasi yang sangat akurat di area tertentu Kota Bangkok yang rawan banjir.

Pemerintah Bangkok juga memakai drone untuk memantau jaringan drainase kota untuk mendeteksi ancaman mampet. Misalnya, potongan pohon tersangkut di pipa drainase kota.

Baca juga: Cara Menambah RAM Android dengan Menggunakan SD Card

7. WIPP, Selandia Baru

Foto: Aqua Barrier

Kembali lagi ke Selandia Baru, mereka juga punya inovasi lain untuk mitigasi banjir namanya WIPP atau Water Inflated Property Protector. WIPP adalah tanggul air portabel untuk menggantikan fungsi karung pasir.

WIPP terbuat dari kantung polyester berlapis vinyl berukuran besar dan bisa disambung-sambung. Cerdiknya, kantung ini tinggal diisi oleh air banjir dan jadilah tanggul.

Solusi ini masuk akal. Ketika terjadi banjir, tentu kita kerepotan untuk mencari karung pasir. Yang melimpah ruah tentu saja air banjir. Maka sekalian saja air banjirnya dipompa masuk ke dalam WIPP dan jadi tanggul untuk pelindung banjir.

Nah, itulah 7 teknologi anti banjir di berbagai negara di dunia yang mungkin bisa diterapkan di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia untuk menghadapi bencana banjir. Bagaimana menurut kalian?

(dwk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *