Rudal Balistik Milik Korea Utara Ini Bisa Jangkau Indonesia?

Parade
militer Korea Utara pada triwulan akhir tahun lalu cukup membuat kejutan.
Pasalnya, negara pimpinan Kim Jong Un tersebut memamerkan satu unit rudal
balistik antarbenua (ICBM) baru yang berukuran super besar.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa ICBM milik Korea Utara ini
memiliki muatan atau daya ledak mencapai 2,5 – 3 ton.

Dikutip Yonhap dari 38 North dari Kontan, seorang pengamat
memperkirakan bahwa ICBM baru Korea Utara memang memiliki daya ledak besar.

Baca juga: Rudal Avangard Milik Rusia Diklaim Tidak Bisa Dihentikan

Sebagai perbandingan, Hwasong-15, rudal balistik yang
mempunyai daya jelajah 12.874 kilometer, dibawa dengan TEL 18 roda.

Dengan kata lain, ICBM baru tanpa nama tersebut (diduga Hwasong-16) 20 persen lebih panjang dibanding rudal andalan Korea Utara saat
ini.

Dikutip dari Tempo hari Selasa 09 Februari 2021, menurut
pandangan mata seorang pakar, panjang ICBM itu kurang lebih 26 meter dengan
diameter 3 meter alias yang terbesar di dunia.

Melissa Hanham, Deputi Direktur dari Open Nuclear Network
menyatakan Korea Utara harus terang-terangan mengancam, Amerika sudah harus
waspada dengan rudal ICBM terbaru Kim Jong Un.

Baca juga: Intip Ketangguhan USS Gerald R Ford, Kapal Induk milik AS

Jika dilihat dari ukuran, biaya, dan teknologi Korut saat
ini, maka ICBM baru tersebut berpotensi mampu menyerang beberapa target
sekaligus (Mutiple Independent Re-entry Vehicles, MIRV).

“Anggap satu rudal ICBM Korea Utara bisa membawa 3-4
hulu ledak, maka kita membutuhkan 12-16 rudal interceptor untuk salah satunya.
Terakhir kali Amerika membeli 14 rudal interceptor, mereka menghabiskan US$1
miliar,” ujar Hanham.

Hadirnya rudal balistik ini diprediksi memiliki dua tujuan,
yang pertama memperlihatkan betapa majunya pengembangan rudal Korea Utara.
Korea Utara giat menggelar tes senjata rudal pada beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Rudal Balistik RS-28 Sarmat Milik Rusia Bisa Hancurkan AS

Sedangkan tujuan kedua yaitu menaikkan daya tawar terhadap
Amerika. Analis senior dari Australia Strategic Policy Institute, Malcolm
Davis, berpendapat bahwa apa yang dicari Korea Utara bukan hanya menangkal
pertahanan Amerika, tetapi kelonggaran atas sanksi yang dijatuhkan ke mereka.

Amerika diketahui menjatuhkan sejumlah sanksi ke Korea
Utara. Salah satu sanksinya yaitu melarang perusahaan untuk berbisnis dengan
Korea Utara, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan.

Selain itu juga melarang perdagangan energi dan mineral
dengan Korea Utara. Padahal, Korea Utara memiliki pemasukan besar pada sektor
energi dan mineral.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *