Pakar Keamanan Tuduh Cina Eksploitasi Jaringan Telepon di AS

 Seorang pakar keamanan seluler menuduh Cina mengeksploitasi jaringan telepon seluler di Caribbean (Kepulauan Karibia) dengan tujuan memata-matai penduduk Amerika Serikat.

Gary Miller, mantan wakil presiden keamanan jaringan di perusahaan analitik yang berbasis di California, Mobileum, mengatakan kepada The Guardian bahwa dia telah mengumpulkan bukti spionase yang dilakukan lewat celah kerentanan dalam sistem telekomunikasi global.

Dilansir dari The Guardian, analisis Miller terhadap “data sinyal” dari Kepulauan Karibia menunjukkan bahwa Cina menggunakan operator seluler yang dikendalikan negara untuk menargetkan, melacak, dan menjegal komunikasi telepon pelanggan telepon AS.

Baca juga: Ini Pandangan Pengamat Mengenai Defacing Situs Pemda

Miller mengklaim bahwa Cina tampaknya mengeksploitasi operator telepon Kepulauan Karibia untuk melakukan pengawasan terhadap orang Amerika saat mereka bepergian.

Exigent Media, bisnis produksi media yang didirikan oleh Miller menjual laporan hasil penelitiannya yang berjudul ‘Far From Home’ seharga USD 229.

Sebelumnya, Exigent Media juga menjual makalah analisis dengan judul yang sama yang berisi serangkaian klaim spionase tentang SS7, yang menuduh bahwa serangan pengawasan massal pada tahun 2018 paling umum terjadi oleh jaringan seluler Cina dan Kepulauan Karibia.

Kekhawatiran tentang kerentanan SS7 bukanlah hal baru. Dalam laporan pada tahun 2017, Homeland Security menyebutkan bahwa beberapa operator telah mengakui kemungkinan adanya bug SS7.

Baca juga: Cara Menghapus Browsing Data di Chrome Tanpa Ribet Klik Menu

Pakar keamanan Dmitry Fedotov mengatakan teknologi yang diperlukan untuk melakukan peretasan semacam ini adalah komputer, sistem operasi Linux, dan kit pengembangan perangkat lunak untuk SS7.

“Selain komputer, alat-alat lain yang dibutuhkan tersedia di Internet secara gratis,” tulisnya dalam blognya pada Januari 2019 lalu.

Juru bicara China Unicom membantah tuduhan bahwa China Unicom telah terlibat dalam serangan terhadap pelanggan di AS dengan memanfaatkan akses ke jaringan telekomunikasi internasional.

(im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *