Efek Didi Kempot dan Masa Depan Industri Musik Digital Indonesia

Luki Safriana

Industri event lebih dari sekadar sektor meeting, incentives, conferences, and exhibitions (MICE). Di dalamnya terdapat kultur kesenian, musik, dan hiburan atau entertainment. Berdasarkan perspektif ekonomi kreatif, salah satu industri yang merugi akibat penyelenggaraan event secara off-air adalah industri musik. Penyanyi, stasiun televisi, pedagang atribut, dan stakeholder lain turut terimbas, dengan kerugian yang ditaksir mencapai triliunan rupiah.

Promotor musik dari Deteksi Production, Harry Koko Santoso, dalam diskusi “Recovery Industri Hiburan di Era New Normal” di Hotel Jambuluwuk, Tapos, Bogor menyatakan bahwa selama pandemi Covid-19 diperkirakan 70 ribu konser musik batal diselenggarakan di Indonesia. Menariknya, angka tersebut mungkin sebetulnya mencapai ratusan ribu karena dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, grup band di Indonesia sangat banyak.

Dari 34 provinsi, terdapat sekitar 500 kabupaten/kota, dan lebih dari 6.000 kampung/kelurahan. Masing-masing minimal mempunyai satu grup band. Apabila band tersebut beranggotakan empat orang, menurut perhitungan Harry Koko, ada kurang lebih 76.000 personil grup band di seluruh Indonesia …

Selengkapnya : Efek Didi Kempot dan Masa Depan Industri Musik Digital Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *